Salamasasih

Published March 13, 2013 by Pipir Iyai

Assalaamu’alaykum sahabat semua!

Alhamdulillah sekarang Masa udah punya blog sendiri buat kumpulan tulisan dan cerita dari Masa, semoga bisa bermanfaat khususnya buat Masa sendiri. Terima kasih buat Kocakres dan fans ringannya yang selalu mendukung Masa dan kawan-kawan. Kalau mau kenalan lebih dekat sama Masa, kunjungi saja halaman kocakres

Selamat membaca! Dan Masa akan selalu menunggu tulisan dari sahabat semua, mari kita bangkitkan semangat baca-tulis di negeri kita.

Wassalamu’alaykum…

Advertisements

Pamer Pemeran Kocakres! Semester I

Published May 1, 2013 by Pipir Iyai

Alhamdulillaah… sudah hampir empat bulan komik Kocakres! Semester I menemani fans ringan di pelosok Nusantara, dari mulai Padang, Pontianak, Jakarta, Bandung, Semarang dan maaaasih banyak lagi…

Mungkin banyak fans ringan baru yang ingin berkenalan dengan para tokoh kocakres, disini Masa akan menjelaskan beberapa penjelasan yang tidak jelas, silahkan dijelaskan!

Pamer Pemeran

 

Penjelasan akan dimulai dari tokoh laki-laki yang posisinya di tengah bawah (baju putih celana biru) dan terus berputar ke arah kanan:

LAKNATU SAYTON
Panggilannya Laknat, adalah pemeran utama kisah kocakres ini, orangnya emosional, sensitif dan ekspresif. Stylish dan agak sedikit “nakal”. Walau egonya cukup tinggi, tapi perhatian pada lingkungan apalagi kalau menguntungkan dirinya sendiri. Aliran positif-negatifnya hampir seimbang, sehingga selalu tampak galau dan labil. Anak tunggal dari bapak-ibunya Laknat.

AYAM
Seekor buaya muara yang termasuk jenis hewan jinak. Sering ditemukan berkeliaran di sekitar perumahan. Jalannya mundur dan tidak pernah berbicara pada siapapun.

PRODUSER
Kelinci yang bertugas sebagai pahlawan penerus perjuangan di Kota mana-mana, dia sering ditemukan diatas genteng rumah, atap bangunan tinggi, juga menara.

MASASIH
Cantik, baik, pintar dan berasal dari keluarga kaya raya. Panggilan di rumahnya Non Asih tapi teman-teman memanggilnya Masa. Di kehidupan sehari-harinya dia lebih menonjolkan kesederhanaan, peduli pada lingkungan sekitarnya dan suka menolong sesama. Suka membaca dan menulis, punya blog juga yaitu katamasasih.wordpress.com. Anak pertama dari dua bersaudara.

SIALAMAH
Tokoh heroin yang suka dipanggil Sial, Adek lucu berkacamata dan berkerudung dua antena ini bisa dikatakan sebagai maskot Kocakres. Kepolosan yang tiada duanya, perkataan dan perbuatannya yang sangat out of brain. Karena ke-innocent-annya, orang-orang tidak tega untuk marah, jadinya malah kesel sendiri. Anak kedua dari tiga bersaudara.

AMANLAH
Paling muda dan paling jenius, sehingga selalu fast track di sekolahnya. Jarang muncul karena dia seorang mahasiswi yang pindah universitas karena penyakit misterius yang dideritanya. Dia adalah keponakannya Dokter Lain.

DOKTER LAIN
Dokter yang bertugas dan memimpin di Rumah Sakit Lain, ditemani dua peliharaannya yaitu Keran dan Roko yang sering tidak akur. Kata-katanya sangat puitis dan bisa mengarah kepada gombalisme. Dokter yang baik hati walaupun memakai masker.

TOKOH UTAMA
Namanya saja yang tokoh utama, tapi bukan. Panggilan sehari-harinya Tama. Sangat wong deso yang mencintai kebudayaan tradisional. Sedikit gaptek dan tidak punya sense of expression. Jalan hidupnya lempeng, take it easy going. Mudah bergaul dan selalu ada ketika dibutuhkan ataupun tidak. Kami belum menemukan informasi tentang asal usul keluarganya.

MAS KULIN
Pedagang keliling yang selalu membawa gerobak berisi jerigen, terkenal dengan teriakan minyak yang khas. Murah senyum tapi ternyata mudah kesal kalau sedang lewat malah dipanggil. Kakinya garis dan tampak sangat maskulin. Ahli beladiri tapi tidak ahli belateman. Pembela kebetulan yang kebeneran lewat.

HAUS
Seekor hewan yang terlihat seperti kuda, sebenarnya dia adalah jenis hewan tunggangan liar tapi jinak. Sering lewat di depan rumah dan berkeliaran di pinggir jalan. Suka ikut campur urusan orang tapi tidak ikut campur urusan hewan. Banyak orang yang mengira bahwa dia adalah dua manusia yang memakai kostum.

BUAYA
Hewan mitos, berbadan unta, bersayap merpati dan berwarna putih bersinar. Suaranya terdengar seperti “Gagahi Aku…”. Sering lewat kalau ada yang garing.

SIUT-SIUT
Senior yang belum lulus di beberapa mata kuliah, Mukanya memang tidak pernah bisa damai, tapi hatinya penuh dengan kedamaian. Rambutnya sangat aktif dan matanya pasif. Kurus tinggi dan berhati sensitif. Selalu terlihat terburu-buru karena tidak ingin kalah dalam perlombaan kebaikan. Tidak terlalu penting asal-usulnya.

BAFACT
Dosen yang sangat berwibawa-bawa. Walau mukanya datar dan tua, tapi bahasa gerakan tubuhnya kadang lebay. Selalu membawa koper ajaib yang bisa mengeluarkan sesuatu dan bisa pula menjadi sesuatu. Tidak ada yang tahu dimana tempat tinggalnya, karena datang dan pergi begitu saja. Yups, begitu saja.

KURIR & ORANG LAIN
Dua saudara kembar berbeda warna, Kurir hitam dan Orang Lain putih. Dua pelawak yang flat. Cocok jadi pemain pendukung yang mudah digambar dan diwarnai. Sejak lahir, mereka terpisah dari kedua orang tuanya hingga beberapa tahun kemudian dipertemukan kembali, yang satu diantar oleh kurir, dan yang satu diantar oleh orang lain.

DINER
Tokoh antagonis yang selalu datang hanya untuk menggaring. Berasal dari suku Dunia Mayah yang tinggal di pulau Papwa Nu Gitu. Orangnya baik hati dan peduli terhadap sesama jenis, makhluk hidup.

 

Masih banyak lagi tokoh lainnya yang tidak kalah unik dan garing, semuanya hanya ada di komik Kocakres! Semester I

Catatan Liburan Kocakres Semester I (2) : Berlomba

Published April 29, 2013 by Pipir Iyai

Akhirnya tiba juga hari penyambutan anak-anak asuh baru di pantinya Pa Ustat. Beliau mengundang tetangga, relasi kerja, sampai ke masyarakat umum, jadinya banyak sekali yang hadir, alhamdulillah masih banyak yang peduli dan menyantuni anak yatim di panti ini. Sebelum acara hiburan dimulai, ternyata Pa Ustat tanpa memberi informasi kepada siapapun selain panitia penyambutan, mengadakan lomba menggambar. Tema bebas, alat bebas, bahkan boleh meminjam dan mencampur alat gambar. Pa Ustat mempersilakan semua hadirin untuk ikut lomba, tapi tidak ikut juga tidak apa-apa. Semua anak asuh pada ikut, kita juga ikut aja, kecuali Kak Siut-siut, Kurir dan Orang Lain, karena mereka jadi panitia.

Ada yang unik dalam perlombaan menggambar disini, Pa Ustat sebagai juri, tidak pernah lelah untuk mengitari para peserta, dan tak jarang juga beliau menanyakan pada peserta tentang apa yang sedang mereka gambar. Para orang tua hampir tidak ada yang mau ikut serta, kecuali Dokter Lain dan Abinya Sial. Yang paling serius mengerjakan adalah Laknat. Kalau yang ngerjainnya sambil main-main itu Sialamah dan Produser, tak jarang mereka malah lari kesana kemari dan pindah-pindah tempat.

Berlomba

Penjuriannya juga tidak biasa, Pa Ustat meminta kita untuk mempresentasikan hasil gambar kami semua maksimal lima menit, dari mulai menceritakan tema gambar, bagaimana proses kita menggambar, sampai meminta pendapat diri sendiri, apakah hasilnya sesuai dengan harapan dan prosesnya. Saat presentasi, ada yang malu-malu, ada yang lurus-lurus aja, ada juga yang hiperaktif. Misalnya, adiknya Sial, gambarnya bagus, tapi dia ngga mau mempresentasikannya karena malu. Ada lagi Mas Diner yang menggaring, beliau menggambar dua buah mobil putih, yang satu dikasih tanda bulan sabit merah dan yang satu lagi dikasih tanda plus merah, lalu beliau bertanya “Coba tebak, yang manakah yang mobil ambulan? Tentu saja yang pakai tanda bulan, kalau yang tanda plus ini namanya mobil amplus.” Eumh… Dan yang paling hiperaktif bercerita adalah Sial dan Laknat.

Pengumuman pemenang akan diumumkan di akhir acara, para panitia mengumpulkan semua hasil karya, kemudian dipajang di sepanjang tembok panti asuhan. Para pedagang kaki lima yang biasa mangkal di pinggiran jalan diundang Pa Ustat untuk meramaikan acara itu, mereka diberi spot khusus, sehingga para hadirin bisa jajan disana, Mas Kulin juga ikut meramaikan teriak-teriak minyak.

Sementara para panitia mempersiapkan panggung, kami berempat bersiap-siap di belakang layar, ternyata kami ditunjuk sebagai pengisi pertama setelah pembukaan dan sambutan, juga pengisi terakhir nanti sekaligus penutupan. Disana ada Pa Ustat juga sedang persiapan sambutan yang juga akan menampilkan anak-anak panti menyanyikan mars panti. Sambil menunggu, aku coba bertanya pada Pa Ustat tentang lomba menggambar tadi.

Pa Ustat pun memaparkan konsep lomba tadi, “Keindahan itu relatif bagi setiap individu, bapak tidak hendak menilai hasil karya para peserta, kerana tentu saja setiap kita memiliki kelebihan dan ilmu yang berbeda. Bapak mencoba menilai kreatifitas dan prosesnya, bagaimana cara peserta memilih tema, bagaimana menceritakannya ke dalam gambar, lalu bagaimana mereka memperesentasikannya. Bapak hendak mengajak bermain, yang dalam proses bermain itu ada proses belajar, bereksperimen, berkreasi, dan juga berekspresi.”

Begitu ternyata, aku jadi merasa diingatkan, bahwa yang Allah nilai itu proses/amalan kita, karena hasil itu semata dari-Nya. Kalaulah misalkan semua orang hanya melihat hasil dan hasil, yang begini yang berhasil dan yang begitu yang gagal, mungkin tidak ada lagi yang mau mencoba setelah mengalami kegagalan, karena takut hasilnya gagal lagi dan lagi. Dan jika mengalami kesuksesan, mungkin kedepannya akan berhenti dan tidak mau berkembang lagi karena sudah merasa berhasil dan puas. Tapi, kalau kita bersungguh-sungguh dalam proses, hasil apapun nantinya, kita tidak pernah merasa rugi, karena kita mendapat pelajaran dan pengalaman berharga dari proses itu.

Setelah Abu Nice – Episode : Keluarga Abu Nice

Published April 24, 2013 by Pipir Iyai

Enam bulan berlalu semenjak meninggalnya Abu Nice, penghuni rumah sederhana itu kini sudah terbiasa dengan keadaan tersebut. Anak-anak kucing sudah membesar dan sering bermain keluar, ayam-ayam semakin bertambah banyak dan bertambah kandang, melukiskan suasana keramaian yang berbeda dari sebelumnya.

Pagi hari, usai sarapan dan bersiap untuk berangkat sekolah, tampaklah sosok Nicety yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. Selain menggendong tas di punggungnya, ia juga memeluk boneka Sialamah dengan tangan kirinya. Ia tengah menatap foto keluarga yang terpajang di atas lemari meja. Ia semakin mendekati foto tersebut, menaruh sikut tangan kanannya di sudut depan meja dan menjinjitkan kakiknya agar dagunya bisa disimpan di atas bidang meja. Melihat abi, menatap senyumannya, memperhatikan sosok tubuhnya. Sedikit demi sedikit tangan kanannya mengarah pada foto tersebut, kemudian meluruskan telunjuknya dan menyentuh gambar abinya.

Dari arah dapur, Ummu Nicety tiba membawa bekal makan siang untuk anak-anaknya. Melihat adegan tersebut, Ummu menghentikan langkah, tersenyum berdiam diri, tidak ingin mengganggu anak perempuannya yang sedang mengobati kerinduan.

Tak lama kemudian, Nicety menyadari kehadiran umminya, “Eh ada ummi! Kangen sama abi juga ya?”

“Kata siapa? Nicety kali yang kangen sama abi, atau kangen sama garingan abi? Hehe…”

“Hahaha, Nicety kangen sama nasihat abi! Eh eh eh ummi tau nggak? Waktu malam terakhir Nicety muhasabah sama abi, abi pernah bilang kalau abi tuh udah nggak sabar pengen lihat sosok Nicety kalau udah jadi remaja nan cantik jelita…”

Ummu memperlihatkan raut duka, prasangkanya berkata bahwa harapan abinya tak dapat terlaksana. Melihat umminya muram, Nicety pun berkata lagi, “Kenapa ummi malah sedih?”

Ummu berusaha membuang raut dukanya, “Eh iya ya! Nggak boleh sedih terus kan ya?”

“Iya, ummi! Dulu abi pernah bilang, di surga nanti para penghuninya semua akan selalu menjadi remaja. Jadi, Nicety harus menjadi wanita shalihah biar nanti masuk surga, terus ketemu abi disana. Nicety akan berusaha menjadi sosok remaja yang paling cantik yang abi lihat di surga!” Penjelasan dari Nicety.

Ummu kini tertawa antara senang dan lucu, “Hehehe iya ya! Tapi nanti abi sama ummi juga jadi remaja loh!”

“Ya udah, nanti kita lihat aja siapa yang lebih cantik, ummi atau aku!”

“Eh eh eh… Nicety nantangin ummi ya?” Goda Ummi sambil tersenyum riang dan menggelitiki tubuh Nicety yang kini tertawa kegelian.

“Ahaha… geli, ummi…! Iya, kita kan harus berlomba dalam kebaikan!” Tambah Nicety.

Seteleh puas menggelitiki anak perempuannya, Ummu memperhatikan boneka Sialamah yang dari tadi ada dalam pelukan anaknya, “Nicety! Kenapa kamu membawa boneka Sialamah? Mau diajak ke sekolah?”

“Oh iya! Aku mau minta izin sama ummi, hari ini ada temen deket aku yang mau pindah sekolah, boleh nggak kalau aku ngasih boneka Sialamah ini sebagai kenang-kenangan?”

Ummu sedikit berpikir dan mengangkat alisnya, “Mmm itu kan boneka punya Nicety, kenapa minta izin sama ummi segala? Dan bukannya boneka Sialamah ini boneka kesayangan Nicety yang abi hadiahkan saat malam terakhir abi?”

“Iya ummi, boneka ini punya kenangan istimewa tentang abi, aku pengen ngasih boneka ini bukan berarti pengen ngelupain abi. Soalnya abi ngasih boneka ini nggak bermaksud ngajarin aku buat memiliki, karena suatu saat kita akan berpisah. Abi selalu ngajarin aku untuk memberikan sesuatu yang spesial kepada mereka yang spesial. Aku kan termasuk orang spesial buat abi, makanya abi ngasih hadiah spesial buat aku. Hari ini aku juga pengen ngasih sesuatu yang spesial buat temen spesialku, dengan harapan boneka ini bisa lebih bermanfaat lagi.”

Ummu tersenyum kembali mendengar penjelasan anaknya, “Mmm begitu ternyata, tentu saja ummi akan mendukung kalau memang niatnya demikian. Tapi, apa nanti Nicety nggak bakal kangen sama boneka Sialamah ini?”

“Nah itu dia ummi! Abi juga pernah bilang, setiap amalan kita di dunia ini, nanti akan menjadi saksi di hari perhitungan, termasuk amalan sedekah. Jadi, Nicety pengen boneka yang spesial ini bisa termasuk menjadi amalan sedekah, sehingga kita bisa ketemu lagi nanti di hari perhitungan, sebagaimana aku bisa ketemu lagi sama abi di surga. Jadi, setelah ini mungkin rasa kangen aku pada boneka Sialamah akan sama seperti kangennya aku ketemu abi.”

“Aamiin…” Ummu Nicety terharu mendengar kesimpulan dari ilmu-ilmu yang suaminya berikan untuk lebih mencintai kehidupan akhirat, dia memeluk erat Nicety dengan penuh kebanggaan lalu mencium kening dan pipinya. Nicety pun ikut tersenyum.

Beberapa saat kemudian Nice tiba di lokasi, “Wah maaf ya! Barusan kakak habis ngebersihin sepatu olahraga dulu, jadi agak lama.”

“Ugh kakak… ummi kan suka ngingetin, siapin perlengkapan sekolah sebelum tidur, biar pagi hari nggak kerepotan dan bisa langsung berangkat!” Ujar Nicety sambil cemberut.

“Iya, iya, kan kakak udah minta maaf!” Tanggapan Nice sambil sedikit kesal.

“Bukannya hari ini nggak ada pelajaran olahraga ya? Kenapa Nice membawa sepatu olahraga?” Tanya Ummu Nicety kepada anak laki-lakinya.

“Oleh karena itu, semalam nggak kepikiran, ummi! Jadi, sepulang sekolah nanti kan aku langsung ke tempat Engkong Ibnu Asbes, niatnya aku mau sekalian lari aja dari sekolah ke padepokan, sekalian pemanasan.” Penjelasan Nice.

“Laa Haula wa laa quwata illaa billah! Tapi larinya jangan terlalu semangat ya! Nanti sebelum latihan beladiri malah sudah cape duluan, hehe.” Nasihat dari Ummu.

“Iya, siap ummi! Kan niatnya pemanasan aja, kalau udah ngerasa panas, ya udah tinggal jalan aja, hihihi…”

“Oke pendekar! Kapan-kapan ajarin ummi sama Nicety juga dong jurus aplikasinya…”

“Tentu saja, ummi! Tiap pagi kan aku sering latihan sendiri, kalau ummi sama Nicety mau ikutan silakan aja. Tapi…, aku belum bisa menguasai jurus andalan abi yang bisa menaklukan ummi itu loh, soalnya abi belum sempet ngajarin!”

“Jurus andalan yang bagaimana?” Tanya Ummu penasaran.

“Itu loh, ummi… yang… apa itu namanya? Mmm… Kalau nggak salah sih, jurus bercanda!” Jawab Nice yang awalanya tampak mengingat-ingat karena lupa.

“Oooh… hahaha jurus itu toh. Hihihi kalau jurus itu sih hanya mempan sama ummi kalau abi yang mempraktekkan! Nanti juga kakak bisa menguasainya kalau sudah mendapat pasangan…” Penjelasan dari Ummu yang agak sedikit tersipu malu karena kehadiran bayangan suaminya yang dulu suka membercandainya.

Nice tampak kebingungan dengan penjelasan umminya. Setelah sedikit puas melihat anak laki-lakinya berpikir keras, Ummu pun berkata lagi, “Hush! Udah ah! Kan kata ummi juga nanti ada waktunya… In-sya Allah kakak nanti bisa menguasai jurus tersebut dengan sendirinya, sekarang fokus saja dengan jurus-jurus yang diajarkan Engkong!”

“Siap, ummi!” Tegas Nice yang langsung menghilangkan raut bingungnya.

“Kalau Nicety? Langsung pulang ke rumah ya!” Kata Ummu.

“Tentu saja, ummi! Seperti biasa, aku kan mau bantu ummi sama ibu-ibu ngebagiin konsumsi buat pekerja bangunan.” Jawab Nicety.

“In-sya Allah… Sip, ini bekal kalian. Dan kakak tolong kasih bungkusan ini sama Engkong ya! Bilang terima kasih atas oleh-oleh minggu kemarin yang Engkong berikan sama kita. Salamin juga buat Bu Ming.” Titipan Ummu sambil memberikan bekal uang dan memasukkan bekal makan siang ke dalam tas masing-masing.

Nice dan Nicety mencium punggung tangan umminya, “Assalaamu’alaykum, ummi!”

“Wa’alaykumussalaam wa rahmatullah…” Ummu membalasnya.

Setelah sosok kedua anaknya hilang dari pandangan, Ummu pun kembali masuk ke dalam rumah. Suasana kembali tenang, Ummu memang sudah terbiasa dengan keadaan ditinggal anak-anaknya pergi sekolah dan suaminya bekerja. Namun enam bulan ini tetap saja merasa kehilangan sesuatu, yaitu memberikan senyuman untuk suaminya dikala ia berangkat dan pulang dari pekerjaannya.

Ummu mendekati foto keluarga yang tadi Nicety perhatikan, kemudian ia pun tersenyum menatapnya. “Wahai suamiku! Entah siapa yang lebih kesepian, aku yang masih bersama anak-anak kita, atau engkau yang sendirian di alam barzah sana?”

Ummu memegang pinggiran bingkai foto tersebut dengan tangan kanannya, “Tapi ketahuilah suamiku! Disini aku yakin kalau engkau tidaklah kesepian. Engkau kini ditemani oleh amalan shalihmu yang kau bekal selama hidup di dunia; ilmumu yang bermanfaat bagi orang lain, sedekahmu yang selalu mengalir, juga do’a-do’a dari anak-anakmu yang shalih akan selalu mengunjungi tempatmu disana.”

Ummu mengangkat foto tersebut sehingga gambaran suaminya jelas ia tatap, “Apa kau tahu, suamiku? Aku masih ingat kata-katamu dahulu ketika kita masih berdua saja. Kau bilang, –Aku menikahimu, tidak berarti kini kau jadi milikku, juga sebaliknya, aku tak kan pernah menjadi milikmu. Karena kita semua adalah milik Allah, dan suatu saat kita akan kembali kepada-Nya. Cinta yang kini kita rasakan adalah tanda cinta Allah kepada kita. Maka tujukanlah cinta kita hanya karena-Nya, sehingga apapun yang terjadi, kita akan selalu yakin bahwa itulah keputusan yang terbaik dari Allah untuk kita.-”

Ummu melangkah menuju kursi tamu sambil membawa foto tersebut dalam genggamannya, lalu duduk di kursi yang sering Abu duduki bila ada tamu berkunjung. “Alhamdulillaah… Hari ini hadiah-hadiah yang kau berikan kepada kita semua sedang beraksi. Nicety hendak menghadiahkan boneka Sialamah kepada temannya, Nice hendak memakai sepatu olahraga barunya untuk berlari ke padepokan guru beladirimu, dan aku sedang mengenakan jilbab yang kau belikan, kau sangat memahami kesukaan kami semua, hehe.”

Kedua mata Ummu tampak sedikit berkaca-kaca, “Subhanallaah… Bahkan ketika kau kini telah tiada, kau tetap saja hendak memberi hadiah kepada kami! Yups, anak ketigamu ini in-sya Allah ada dalam keadaan sehat, menunggu beberapa bulan lagi sampai ia dapat menatap dunia.” Ucap Ummu sambil mengelus-elus perutnya yang sudah membulat.

“Aku jadi ingat saat malam terakhirmu, aku bilang kalau aku juga punya kejutan untukmu! Wajahmu begitu berseri-seri, dan… lebih berseri lagi ketika aku mengabarkan bahwa aku sedang mengandung anak ketigamu!” Mata Ummu yang basah kini ditemani senyuman indah merekah.

Ummu melihat Nicety yang pada foto ada dalam pangkuan suaminya, “Nicety dulu anaknya manja banget, sedikit-sedikit nangis, hehe. Tapi alhamdulillaah… engkau membinanya dengan kemandirian dan kepedulian terhadap sesama, sehingga dia menjadi lebih dewasa dibanding anak-anak seumurannya.”

Ummu mengalihkan pandangan pada Nice, anak laki-laki yang berdiri paling depan pada foto, “Nice, anak pertama kita, dulu penakut dan pemalu, sampai-sampai kemana-mana pengennya dianter. Tapi sekarang, dia jadi ketua kelas yang gagah berani, sang pembela kebenaran dan pemberantas kebathilan, katanya, hehe. Terima kasih telah membinanya dengan kepercayaan dan kekuatan jasmani-ruhani.”

“In-sya Allah, anak ketigamu ini mempunyai teladan yang baik dari kakak-kakaknya kelak. Walau ia tak dapat berjumpa denganmu, ia akan merasakan kasih sayang dan akhlak mulia yang sudah kau alirkan pada Nice dan Nicety. Sampai-sampai, kalau aku sedang ngobrol dengan mereka berdua, serasa lagi ngobrol dengan dirimu, hehe.”

Lalu Ummu berpindah pandangan pada sosoknya sendiri, “Aduhai! Siapakah wanita cantik yang berdiri disampingmu itu? Hihihi… Kau pasti akan langsung memaafkan kalaupun aku sekarang bilang, maafkan aku wahai suamiku, aku belum bisa menjadi istri yang melayani dan menyokongmu dengan baik, lalu kau akan memberikan nasihat agar aku lebih baik dari hari ke hari. In-sya Allah aku akan terus menambah amal shalih dan ilmu yang bermanfaat agar cintamu pun terus bertambah, karena kau bilang kalau aku adalah sendok yang menyuapkan nutrisi cinta kepadamu…”

Tak terasa satu tetes air mata jatuh ke pipinya yang sedang terangkat karena senyuman, “Aku akan terus berusaha menjadi wanita shalihah hingga kelak kita dapat berjumpa lagi di surga-Nya. Dan bilakah aku diizinkan lebih awal masuk ke surga, akan aku sambut engkau dengan sebaik-baiknya sambutan yang selalu kau harapkan ketika kau kembali pulang dari pencarian nafkah…”

Hidung Ummu kini mulai tersumbat, ia mulai mengusap wajahnya yang terbasahi air mata kerinduan, “… dan karena kau suka berkata padaku, bahwa aku adalah rumahmu, kau akan pulang dan beristirahat padaku!”

Ummu kini menyimpan punggungnya pada sandaran kursi, menutup matanya dan bernafas senyaman mungkin agar tidak telarut dalam duka. Ia menenangkan kembali gejolak kerinduannya, menghadirkan suara suaminya bergema di setiap sudut rumah mungil itu. Seolah suaminya berada disana sedang menemaninya.

Beberapa saat setelah suasana hatinya kembali tenang, ia mengangkat tubuhnya dari sandaran, membuka kedua matanya, dan menatap wajah senyum suaminya dalam foto. Dengan dibarengi gaung suara Abu Nice dalam imajinasinya, Ummu pun berkata sambil tersenyum, “Kan?”

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (Al-Mulk:2)

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan.” (At-Tahriim:6)

Catatan Liburan Kocakres Semester I : Bercerita

Published April 22, 2013 by Pipir Iyai

Lumayan cape juga bersepeda mendaki bukit dan menuruninya, tapi sangat menyenangkan karena dilakukan bersama teman-teman dan insya Allah menyehatkan. Kita beristirahat di tepi sungai yang memisahkan dua bukit. Di tengah-tengah gemuruh aliran sungai yang menyapa bebatuan, aku mulai membacakan kisah pada teman-teman. Aku membawa buku sejarah panti asuhan yang kini dipimpin oleh Pa Ustat. Karena kita diundang untuk mengisi acara penyambutan anak asuh baru di ujung liburan semester, setidaknya kita mengetahui sejarah perjuangannya hingga kini.

Aku duduk di tepi sungai menghadap Sial yang tiba paling pertama, Sial langsung melompati bebatuan lalu duduk di atas batu besar di tengah sungai sambil tersenyum riang. Tama lebih tertarik memanjat pohon besar terdekat lalu duduk disana. Dan Laknat yang kelelahan lebih memilih duduk di tempat landai agar sewaktu-waktu bisa berbaring. Tentu saja yang paling bersemangat mendengarkan adalah Sial, seperti halnya kalau lagi pelajaran IPS-sejarah, pasti serius memerhatikan walau sambil berdiri di luar kelas. Kalau aku sih memang basic-nya suka bahasa dan sastra, aku senang sekali mempelajari berbagai bahasa, dari mulai bahasa Arab, Indonesia, Inggris, Jepang, Itali sampai bahasa Kocakres. Tapi, aku paling suka bahasa Arab, karena ia bahasa Al-Qur’an dan bahasa surga^^. Aku juga diminta teman-teman untuk menjadi guru les bahasa mereka.

Bercerita

Aku masih ingat kata-kata Laknat dari ayahnya, “Hidup adalah pengejaran akan mimpi. Tanpa mimpi, kita hanyalah robot yang berjalan dalam sistem kehidupan fana. Dengan adanya mimpi, dan passion untuk mendapatkannya, sampai kapan pun, bahkan sampai nafas kita terhenti, mimpi itu akan tetap hidup dan terwariskan ke generasi baru yang telah melihat kesungguhan kita dalam berusaha mewujudkannya.”

Begitulah, walau para pahlawan terdahulu telah tiada, namun jasa dan mimpi mereka sampai kepada kita semua. Bahkan kita masih dapat merasakan passion mereka, dari mulai pelestarian budaya, bahasa, hingga perjuangan membela negeri, ilmu pengetahuan dan agama. Salah satu pahlawan yang sedang aku ceritakan adalah pendiri panti asuhan. Ia memang telah tiada, namun cita-cita dan mimpinya kini dilanjutkan dan diperjuangkan oleh Pa Ustat, dan alhamdulillah kian hari, panti asuhan kian makmur. Jadi, jangan lelah mengejar mimpi dan cita-cita, tetaplah bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Jika mimpi itu tergapai, generasi mendatang akan merasakan manfaatnya dan meneladani kesungguhan kita. Jika mimpi itu belum tergapai, generasi mendatang akan melanjutkan perjuangan kita. Jika kita sedang memperjuangkan mimpi para pendahulu, jadilah lebih baik daripada sebelumnya. Dan jika saat ini belum memiliki mimpi, berjuanglah bersama kawan yang memilikinya, dan bersama-sama mewujudkannya.

Keluarga Abu Nice – Lirik: Per-Cobaan

Published April 19, 2013 by Pipir Iyai

Listen to song/music:

– OST Keluarga Abu Nice “Per-Cobaan”

– “Per-Cobaan” (instrumental)

Keluarga Abu Nice

Per-Cobaan

Di kala aku mulai mencoba
‘tuk perbaiki jalan hidupku
banyak rintangan godaan syetan
yang menunjuk jalan kesesatan

Di setiap kali aku mencoba
untuk benahi cara hidupku
Engkau berikan aku cobaan
untuk menguji kesungguhanku

Ya Allah ku berlindung hanya pada-Mu
Jauhkan dari langkah syetan terkutuk
Musuh nyata bagi umat manusia di dunia

Ya Allah ku memohon pertolongan-Mu
Kuatkan keimanan dalam hatiku
Berilah ketabahan untuk menempuh segala ujian dari-Mu

Hidup kita di dunia hanya senda gurau belaka
Hidup kita di dunia hanya sementara sahaja

Keluarga Abu Nice – Episode 5: Tidur (final)

Published April 17, 2013 by Pipir Iyai

“Abi, sebelum aku tidur, temenin aku dong, pengen curhat nih, bi!” Pinta Nicety yang disuruh umminya segera tidur.

“He? Nicety mau curhat apa sama abi? Lagi pula udah malem begini, apa Nicety belum ngantuk?” Tanggapan dari Abu Nice kepada anak perempuannya tersebut.

“Kan kata abi sebelum tidur kita mesti muhasabah dulu, aku kan masih kecil, jadi abi harus membimbing aku pas lagi muhasabah, mana yang baik yang harus aku tingkatkan, dan mana yang jelek yang harus aku jauhi dan nggak diulangi lagi.”

“Subhanallaah walhamdulillaah… Ternyata begitu! Kenapa nggak sama ummi aja?”

“Sama ummi udah kemarin malem, sekarang bagian abi!”

“Aduh! Digilir ya? Hehe… Ya udah, sekarang Nicety ke kamar duluan ya, nanti abi kesana sehabis gosok gigi!” Ucap Abu Nice sambil memperlihatkan gigi-giginya.

Beberapa saat Nicety yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya menunggu sang abi datang, tiba-tiba dari arah pintu tampaklah sesosok makhluk mungil berwarna kuning-hitam dan berantena dua, makhluk itu bergerak-gerak mengeluarkan suara mungil pula, “Assalaamu’alaykum, Nicety! Perkenalkan namaku Sialamah!”

Nicety terperanjat melihat boneka mini berbentuk Sialamah yang dia inginkan semejak dipublikasikan iklannya oleh Boneka Neni, “Abi?” Nicety melirik ke arah pintu berusaha melihat siapa yang menggerakkan boneka tersebut.

Abu Nice menampakkan dirinya, “Hehehe… Sebenarnya boneka Sialamah ini mau abi kasih pas kejutan sarapan pagi tadi. Tapi karena takut nggak jadi kejutan, abi ngasihnya sekarang aja!” Abu mendekati tempat tidur anak perempuannya dan memberikan boneka tersebut.

“Hulala…! Asyiiik boneka Sialamah! Alhamdulillaah… Makasih ya, bi! Dari kemarin-kemarin aku pengen banget punya boneka ini, soalnya temen-temen udah pada punya!” Nicety tampak berseri-seri sambil memeluk erat boneka barunya.

“Oke tuan puteri, silakan segera berbaring bersama Sialamah dan kalau memang mau curhat, segera konsultasikan biar bisa segera tidur.” Abu menyelimuti Nicety lalu duduk pada kursi yang berada di sebelah kanan tempat tidur anak bungsunya itu.

“Oh iya bi, kenapa sebelum tidur kita harus mengusahakan dulu buat muhasabah?”

“Agar kita bisa mempersiapkan diri menjadi orang yang beruntung. Nicety kan udah tau kalau orang yang beruntung itu adalah yang hari esoknya lebih baik daripada hari ini. Jadi, kita harus mengintrospeksi diri, hari ini apa saja yang sudah kita lakukan, amalan sholeh apa yang perlu ditingkatkan. Dan adakah kekhilafan yang sengaja ataupun tidak sengaja dilakukan oleh kita, kita niatkan esok hari agar tidak terulang lagi.”

Lalu masuklah sesi curhatan Nicety tentang kegiatannya dari mulai bangun tidur, kehilangan Si Hero, belajar di sekolah, dan bermain bersama teman-temannya. Seperti biasa, Abu tidak langsung mengatakan yang ini salah dan yang itu benar, tapi membimbingnya terlebih dahulu kepada pemahaman kenapa salah dan kenapa benar. Bagaimana hal yang seharusnya dilakukan, apa akibatnya jika tetap dilakukan, dan berbagai sebab-akibat serta contoh yang menghantarkan anaknya kepada semangat untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

“Alhamdulillaah… konsultasinya sudah selesai ya! Sekarang jadwalnya istirahat!”

“Kenapa istirahat, bi? Kan belnya juga belum berbunyi!” Jawab Nicety.

“Hahaha… kamu ini, udah ah, malah menggaring. Tuh lihat Sialamah aja udah ngantuk!”

“Hehe, iya bi, makasih ya udah nemenin aku muhasabah, jangan bosen-bosen!”

“Hihihi… in-sya Allah, Abi nggak akan pernah bosen kalau Nicety dari hari ke hari semakin baik, tumbuh dewasa menjadi wanita shalehah. Aduh, abi jadi nggak sabar nih pengen lihat sosok Nicety menjadi seorang remaja nan cantik jelita. Pastinya harus lebih cantik dari pada ummi, hehe!” Harapan Abu pada anak perempuannya.

“Harus dong, bi! Kan biar kita jadi orang-orang yang beruntung, makanya aku harus bisa lebih baik daripada ummi!” Jawab Nicety yang tampak percaya diri.

“Aamiin…” Abu tersenyum menatap dan mengusap rambut anaknya agak lama, “Sip, udah ya, abi juga pengen istirahat nih, jangan lupa berdo’a.”

Saat Abu hendak berdiri, tiba-tiba Nicety memegang tangan abinya, “Abi! Aku takut!”

“Takut apa? Hantu?” Prasangka Abu.

“Bukan, abi! Tadi di sekolah kan bu guru mengulang pelajaran berdo’a, terus aku takut banget sama do’a sebelum dan sesudah tidur, soalnya isinya tentang hidup dan mati.”

“Yups! Isi kedua do’a tersebut sama-sama tentang hidup dan mati, karena tidur itu juga sebenarnya kita mati, tapi mati kecil. Saat kita tidur atau pun meninggal, ruh kita sama-sama dipegang sama Allah, karena kita semua adalah milik Allah, termasuk jasad dan ruh kita. Kalau kita meninggal, jasad akan kembali menjadi tanah, dan ruhnya Allah tahan. Sedangkan ketika tidur, Allah memegang ruhnya, bila dilepaskan lagi, kita akan terbangun kembali.” Penjelasan Abu Nice.

“Uuhm… kalau tidur itu mati kecil, berarti mati itu tidur besar ya, bi?” Tanggapan Nicety.

“Hahaha… Nicety bisa aja! Boleh boleh lah… Hehe. Kadang kala kita suka bermimpi ketika tidur, bisa jadi mimpi di waktu tidur didatangkan oleh setan-setan yang jahat, karena sebelum tidur kita banyak berbuat dosa, tidak bermuhasabah dan tidak berdo’a. Tapi kalau sebelum tidur kita beramal sholeh, in-sya Allah saat tidur pun dijaga dan dilindungi oleh Allah!”

“Ah benar juga! Berarti kalau selama hidup kita selalu beramal sholeh, ketika kita mati nanti, kita akan mimpi indaaaah… sampai alam akhirat. Dan kalau yang suka berbuat jahat ketika hidup, nanti di alam kubur bakal mimpi buruk terus ya, bi?”

“Hehe… iya, ketika mati, yang kata Nicety tidur besar, kita mimpi indah selalu, nanti pas bangun lagi di akhirat, kita akan dihidupkan lagi dan ditempatkan di surga yang indah selama-lamanya. Sedangkan mereka yang mati dan tidak pernah beramal sholeh, akan bermimpi buruk, yaitu disiksa di alam kubur, bahkan pada akhirnya masuk ke neraka, hiiihhh na`uuzubillahi min dzalik!”

“Kalau begitu Nicety sekarang mau berdo’a dan berniat mau jadi lebih baik lagi esok hari!” Kata Nicety.

“Udah nggak takut lagi nih? Tidurnya nggak usah ditemenin kan?” Tanya Abu.

“Nggak usah, bi! Kan kalau tidur ruh kita dipegang sama Allah, jadi Nicety nggak usah takut, soalnya tetep di deket Allah!” Jawab Nicety.

Abu tersenyum, “Alhamdulillaah… Selamat tidur, semoga Allah memberi Nicety mimpi yang indah, dan berjumpa kembali esok hari menjadi anak sholehah yang abi banggakan!”

“Abi juga jangan lupa berdo’a ya! Biar kita berjumpa nanti di mimpi indah bersama-sama, eum… ummi sama kakak juga!”

“Siap tuan puteri! Abi jadi nggak sabar pengen tidur, pengen ketemu Nicety dalam mimpi indah, hehe… Wassalaamu`alaikum wa rahmatullah…”

“Wa`alaykumussalaam wa rahmatullahi wa barakatuh!”

Abu perlahan menutup pintu kamar putri bungsunya yang tampak telah memejamkan matanya dengan bibir yang bergerak-gerak karena membaca do’a. Dari arah lain, Ummu Nicety menghampiri, “Nicety sudah tidur, bi?”

“In-sya Allah segera, hehe. Dia tampak senang dengan kejutan bonekanya, sebagaimana dirimu bergembira menerima hadiah dariku. Oh iya, bagaimana dengan hadiah buat Nice? Sudah ummi berikan padanya?”

“Alhamdulillaah… iya udah aku kasih tadi ketika menemaninya belajar, hadiahnya langsung dipakai, hehe. Nah… sekarang bagian ummi yang mau ngasih kejutan sama abi!”

“Wah wah wah… ummi punya kejutan juga toh? Jadi penasaran, apaan tuh?” Raut muka Abu Nice tampak lebih berseri-seri.

“Mmm… ngobrolinnya di kamar aja yuk!” Ummu mengajak Abu seperti tidak sabar untuk memberitahukannya.

“Eit eit eit… Daku semakin penasaran nih!”

“Ih abi, jangan menduga-duga yang aneh-aneh deh…”

Sepasang suami-istri itu pun masuk ke kamar mereka. Suasana keheningan malam nan tenteram, menyelimuti kelelahan, menyembunyikan kecemasan. Terdengar sayup-sayup ketukan ronda malam yang pada saat itu kembali aktif setelah peristiwa ayam Abu yang dicuri, walaupun pencurinya sudah ketahuan.

Beberapa jam kemudian, di sepertiga malam, tampaklah Abu Nice sedang memilih pakaian bersih dan rapi untuk bertahajjud, sembari menunggu istrinya yang sedang bersuci di kamar mandi. Tak lama kemudian, sosok Nice berjalan perlahan mendekatinya.

“Abi mau shalat malam ya?” Tanya anak cikalnya.

“Wah Nice bangun? Iya, abi mau tahajjud bareng ummi.” Jawab Abu.

“Aku mau ikutan dong, bi!” Ucap Nice.

“Kamu nggak ngantuk? Memang nggak mau tidur lagi?” Tanya Abu sambil tersenyum.

“Ayam-ayam sedang tidur di kandang, kucing-kucing juga sudah nyenyak tertidur, kalau aku juga tidur, apa bedanya aku sama mereka, bi? Aku pengen shalat aja, itu kan lebih baik daripada tidur!” Jawab Nice dengan mata merah tanda baru saja bangun tidur.

“Subhanallaah walhamdulillaah… Kalau begitu, segera ambil air wudlu dan kenakanlah pakaian yang paling bagus dan bersih, abi juga lagi nunggu ummi.”

Dimulailah shalat malam tersebut. Beberapa rakaat awal Nice masih kuat, namun rakaat berikutnya sedikit demi sedikit dia nampak kembali terkantuk-kantuk, bahkan berhenti ketika bersujud tanda dia telah ketiduran dengan posisi tersebut.

Sebelum mengakhiri shalat malam dengan witir, Abu dan Ummu tampak tertawa melihat anaknya yang masih bertahan lama dalam posisi sujud tersebut. Abu pun membawa bantal dan menidurkannya di atas sajadah tepat di pinggir tempat shalatnya, agar ia mudah terbangun lagi dikala adzan subuh berkumandang.

“Abi, kayaknya ummi pengen ke toliet dulu, kalau abi mau witir duluan silakan!” Ucap istrinya sambil memberi aba-aba hendak membuka mukenanya.

“Oh, ya udah, abi witir duluan aja ya!” Tanggapan dari Abu Nice.

Beberapa saat Abu tengah dalam shalatnya, terdengarlah teriakan dari arah kamar Nicety, putri bungsunya, “Abi… Abi… Abi…!”

Beberapa kali teriakan, tidak ada tanggapan, istrinya masih di dalam kamar mandi. Nicety tiba di lokasi, “Abi… Abi… Abi…!” Nice yang tertidur langsung terperanjat bangun karena teriakan adiknya yang tengah berdiri tepat di depannya. Ia langsung menoleh pada abinya yang sedang bersujud.

“Ssst… Abi lagi shalat, tunggu dulu, sini duduk sama kakak!” Nice mencoba menenangkan adiknya yang setengah menangis.

Nicety pun duduk di pangkuan kakaknya sambil memperhatikan abinya yang masih shalat. Beberapa saat kemudian Nicety berkata, “Kakak! Abi kok sujudnya lama ya?”

“Ssst… mungkin abi lagi berdo’a, dan do’anya banyak!”

Dirasa terlalu lama, hingga ia mengira kalau abinya juga ketiduran seperti apa yang dia lakukan sebelumnya, akhirnya Nice mencoba menggoyahkan badannya. “Abi, ini Nicety nangis, abi…?”

Beberapa kali tangan kecil Nice mengguncangkan tangan kanan abinya, seketika itu tubuh Abu Nice terhempas ke lantai. Nice dan Nicety terkejut menatapnya. Nice memberdirikan adiknya dan semakin mendekati abinya, “Abi… Abi…?” Semakin lama, Nice semakin kuat menggoyahkan tubuh abinya yang telah lemah lunglai. “Ummi…! Ummi…! Abi nggak bangun-bangun, ummi…! Nice berteriak masih menggoyahkan tubuh abinya.

Tidak lama, Ummu Nicety keluar dari kamar mandi. Memperhatikan keadaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Anak perempuannya berdiri terdiam melihat kakaknya mengguncangkan tubuh abinya sambil memanggil-manggil tak berhenti. Ummu berlari ke arah mereka, menghentikan tangan anak laki-lakinya, lalu menempelkan telapak tangan kanannya yang masih basah ke arah jantung suaminya yang sudah tak berdetak. Mengarahkan kembali telapak tangannya ke dekat hidungnya yang sudah tak bernafas, sampai-sampai memeriksa urat nadinya yang kini sudah tak berdenyut.

Badan Ummu menjadi lemas, namun debar jantungnya terasa lebih cepat, tatapan matanya terfokus ke arah wajah suaminya yang tenang tampak sedang bermimpi indah, “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un…”

Nice, yang telah mengerti apa maksud kalimat umminya tersebut, seketika mengucurkan tetesan-tetesan air mata yang sebenarnya tertahan dari semenjak prasangka pertamanya. “Ummi…! A-abi… a-bi…?”

Ummu yang terfokus pada suaminya langsung menoleh pada anak laki-lakinya yang tengah memperlihatkan raut muka ketidakpercayaan. Dia harus sabar… dia harus tabah… dia harus menenangkan anak-anaknya. Ummu pun langsung memeluk anak laki-lakinya yang seketika itu langsung berteriak menangis, “Wwaa… abi… abi…!”

“Sabar Nice… Sabar…” Ummu tidak dapat menemukan penjelasan terbaik untuk menenangkannya selain kata tersebut.

Melihat keadaan tersebut, Nicety pun mendekati umminya, “Abi kenapa, ummi?”

Ummu mencoba menenangkan dirinya, menghirup nafas dan menghembuskannya. Ia meletakkan kepala suaminya di atas pangkuan pahanya, memeluk anak laki-lakinya yang masih menangis dengan tangan kanannya. Dan merangkul anak perempuannya yang masih terheran-heran dengan tangan kirinya. Ia juga belum menemukan penjelasan yang cocok untuk Nicety, bahwa abinya yang kini terlihat tengah terbaring di hadapan mereka, tak kan bisa dia lihat lagi di esok hari.

Akhirnya Nicety pun memulai pembicaraan, “Ummi…! Tadi aku mimpiin abi, katanya abi mau pulang duluan, sampaikan salam buat ummi sama kakak. Memangnya abi pulang kemana, ummi? Bukannya abi ada disini? Bukannya ini rumah kita?”

Mendengar perkataan anak perempuannya, akhirnya air mata Ummu Nicety pun mengalir deras, ia ingin berbicara tetapi masih terbata-bata.

Lama menunggu tanggapan dari umminya yang tidak memberikan sepatah kata pun untuknya, Nicety pun kembali berbicara, “Abi… lagi tidur, kan?” Sambil setengah ragu karena walaupun tertidur, mengapa abinya tidak terbangun dengan tangisan keras kakaknya.

Ummu Nicety akhirnya menjawab, berusaha tersenyum namun masih saja otot pipinya berat karena kedua matanya lebih memilih untuk menangis, “I-iya Nicety, abi sedang istirahat…!”

Masih tidak yakin, Nicety pun kembali bertanya, “A-abi… nanti bangun lagi, kan? Kan?”

Semakin mengiris hati, Ummu lama terdiam memikirkan jawaban untuk putri bungsunya tersebut, hatinya masih belum siap, pikirannya masih kososng. Hingga beberapa saat ia kembali mencoba menenangkan gejolak perasaannya, mengusap-usap kedua matanya yang semakin tampak merah, mencoba tegar lalu menjawab sambil tersenyum menatap anak perempuan kecilnya, “Tentu saja Nicety, abi pasti bangun lagi… Semua orang…, setiap manusia…, pasti akan dibangkitkan lagi.”

 

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (Al-`Ankabuut:57)

 

“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.” (Az-Zumar:42)